Tim Pengabdian FKIK UNIB Edukasi Siswa SMAN 2 Kota Bengkulu tentang Imunologi dan Autoimun Melalui Active Learning
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu (FKIK UNIB) menggelar kegiatan bertajuk "Peningkatan Literasi Imunologi dan Deteksi Dini Penyakit Autoimun pada Remaja melalui Metode Active Learning di SMAN 2 Kota Bengkulu" pada Selasa, 1 September 2026, pukul 07.00–09.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 36 siswa SMA Negeri 2 Kota Bengkulu, dengan tim pengabdian yang terdiri dari Winna Soleha, S.Si., M.Biomed, dr. Ike Sulistiyowati, M.Biomed., Sp.Rad., dengan dukungan mahasiswa kedokteran Alya Humaida Avy dan Balqis Permata Hutami.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya meningkatkan pemahaman remaja mengenai sistem imun tubuh dan penyakit autoimun, termasuk bagaimana sistem pertahanan tubuh dapat mengalami gangguan toleransi terhadap jaringan sendiri. Pembelajaran mengenai sistem imun dapat diperkuat dengan pendekatan yang menghubungkan konsep dasar imunologi dengan relevansi klinis dan pengenalan tanda yang memerlukan perhatian medis. Berbagai penyakit autoimun seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE), Diabetes Melitus Tipe 1, Tiroiditis Hashimoto, dan Rheumatoid Arthritis dapat mulai menunjukkan gejala sejak usia remaja, sehingga pengenalan tanda bahaya sejak dini menjadi penting agar penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat.
Foto kegiatan simulasi bermain peran siswa menggambarkan kerja sel imun saat kondisi sehat versus autoimun
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi perkenalan dan pengerjaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi inti meliputi cara kerja sistem imun, konsep toleransi diri (self-tolerance), serta karakteristik empat penyakit autoimun yang paling relevan bagi remaja. Untuk memperkuat pemahaman secara interaktif, peserta diajak mengikuti simulasi bermain peran berjudul "Lima Sahabat dalam Sistem Imun" yang menghadirkan lima tokoh: Antigen, Sel T, Sel B, Antibodi, dan Sel Tubuh Sendiri. Simulasi diawali dengan memperagakan bagaimana sistem imun yang sehat mampu membedakan benda asing dari sel tubuh sendiri berkat toleransi diri. Berikutnya, simulasi kondisi kebalikannya saat tokoh Sel Tubuh Sendiri yang sama justru keliru dikenali sebagai musuh oleh Sel T, memperlihatkan secara nyata bagaimana kegagalan toleransi diri dapat memicu penyakit autoimun. Kesalahan ini diperagakan secara spesifik pada beberapa organ berbeda melalui skenario Tiroiditis Hashimoto, Lupus Eritematosus Sistemik, Diabetes Melitus Tipe 1, dan Rheumatoid Arthritis.
Foto kegiatan simulasi deteksi dini penyakit autoimun melalui diskusi analisis Kartu Diagnosis Mini
Sesi berikutnya menggunakan ‘Kartu Diagnosis Mini’ sebagai media simulasi edukatif untuk melatih siswa mengenali pola gejala secara sederhana. Kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk mendorong diagnosis mandiri karena penegakan diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan oleh tenaga medis. Beberapa skenario kasus diberikan untuk melatih siswa membedakan kondisi normal, alergi, atau mengarah pada penyakit autoimun tertentu. “Mengenal tubuh kita sendiri adalah langkah pertama menuju hidup sehat. Jangan takut atau malu untuk bercerita jika kita merasakan sesuatu yang tidak biasa pada tubuh, bisa bercerita ke orang tua atau guru. Ingat, deteksi dini autoimun bisa membantu untuk mencari pertolongan medis lebih cepat,” ujar Winna Soleha, S.Si., M.Biomed mengakhiri sesi diskusi analisis kasus autoimun. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengerjaan post-test sebagai bagian dari evaluasi pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh sesi.
Foto Tim Pengabdian kepada Masyarakat FKIK UNIB bersama siswa SMAN 2 Kota Bengkulu usai simulasi active learning tentang imunologi dan autoimun
Kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme tinggi dari para siswa, yang terlihat aktif berpartisipasi baik dalam sesi pemaparan materi maupun simulasi bermain peran. Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian FKIK UNIB berharap siswa SMA Negeri 2 Kota Bengkulu dapat lebih memahami cara kerja sistem imun tubuh, lebih peka terhadap tanda atau gejala yang memerlukan perhatian, serta terdorong untuk berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami keluhan yang tidak biasa. [WS | Ed. NAM]











