Kuliah Umum Medical Anthropology FKIK UNIB Soroti Pendekatan Etnografi dalam Memahami Pengalaman Pasien
BENGKULU - Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bengkulu menyelenggarakan Guest Lecture bertajuk “Medical Anthropology: Ethnographic Research on Health and Illness” pada Selasa, 3 Maret 2026, secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Annemarie Samuels, MA dari Leiden University dan diikuti oleh 166 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa kedokteran.
Gambar 1. Kuliah tamu bertema “Medical Anthropology: Ethnographic Research on Health and Illness”
Dalam sambutannya, pimpinan FKIK UNIB menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pendidikan kedokteran. Pendekatan antropologi medis dinilai relevan untuk membantu calon dokter memahami pasien tidak hanya dari sisi biologis, tetapi juga dari konteks sosial, budaya, dan pengalaman hidup yang memengaruhi proses sakit dan pencarian pengobatan.
Gambar 2. Sambutan oleh Dekan dan Koordinator Program Studi Kedokteran FKIK UNIB
Pada sesi materi, Dr. Annemarie menjelaskan bahwa antropologi medis membantu tenaga kesehatan memahami makna sakit dari sudut pandang pasien. Ia menyoroti perbedaan antara penyakit sebagai kondisi biologis dan pengalaman sakit sebagai pengalaman sosial, moral, dan budaya. Dalam pemaparannya juga dibahas konsep medical pluralism, yaitu kondisi ketika pasien tidak hanya mengakses layanan medis formal, tetapi juga dapat mencari bantuan dari keluarga, pengobatan herbal, atau praktik penyembuhan tradisional.
Gambar 3. Dr. Annemarie Samuels, MA memaparkan peran antropologi medis dan pendekatan etnografi dalam memahami pengalaman pasien secara lebih mendalam.
Selain itu, narasumber menekankan pentingnya narrative medicine dan kompetensi budaya dalam praktik klinis. Menurutnya, pengalaman pasien terhadap rasa sakit, harapan saat sakit, hingga kenyamanan dalam berinteraksi dengan tenaga kesehatan dapat dipengaruhi oleh nilai budaya, gender, serta ketimpangan akses layanan kesehatan.
Dalam aspek metodologi, Dr. Annemarie menjelaskan bahwa riset antropologi umumnya menggunakan pendekatan kualitatif, terutama etnografi, melalui observasi, wawancara, diary, dan dokumentasi video. Ia juga menyinggung penggunaan semi-structured interviews untuk menggali perspektif pasien secara lebih mendalam, serta menjelaskan bahwa pendekatan ini memang membutuhkan waktu, tetapi mampu menghasilkan data yang tidak selalu dapat diperoleh melalui survei biasa.
Sebagai contoh, narasumber memaparkan penelitian terkait perawatan paliatif dan HIV. Dalam konteks paliatif, observasi etnografis dapat menangkap cara tenaga kesehatan menyampaikan kondisi terminal secara implisit dan sensitif kepada keluarga. Pada penelitian HIV, pendekatan antropologi membantu menjelaskan bagaimana stigma sosial dapat memengaruhi keputusan pasien untuk berobat, termasuk rasa takut dikenali saat datang ke fasilitas kesehatan.
Sesi tanya jawab berlangsung aktif. Diskusi membahas potensi penggunaan etnografi untuk memahami rendahnya cakupan vaksinasi, lost to follow up, hingga fenomena tingginya hipertensi pada nelayan meskipun kepatuhan minum obat tinggi. Narasumber menjelaskan bahwa pendekatan campuran kuantitatif dan kualitatif dapat menjadi pilihan, tergantung pada pertanyaan penelitian yang ingin dijawab. Ia juga menjelaskan bahwa rapid ethnography dapat diterapkan untuk kebutuhan riset kesehatan dengan waktu lebih singkat.
Pertanyaan lain yang juga mengemuka adalah tentang bagaimana membangun kepercayaan dengan kelompok yang diteliti. Menurut Dr. Annemarie, trust building menjadi bagian penting dalam riset etnografi, terutama pada kelompok yang tertutup atau topik yang sensitif. Peneliti perlu hadir dalam aktivitas keseharian subjek dan menjelaskan manfaat penelitian agar hubungan yang terbangun tidak sebatas hubungan formal antara peneliti dan responden.
Di akhir diskusi, juga muncul pertanyaan mengenai peluang riset multidisiplin yang mengintegrasikan data laboratorium dengan faktor sosial. Narasumber menilai pendekatan semacam ini memiliki prospek besar sebagai arah pengembangan ilmu di masa depan. Kuliah umum ini diharapkan dapat membuka peluang riset antropologi kesehatan di FKIK UNIB, termasuk pada isu paliatif, HIV, dan berbagai masalah kesehatan masyarakat dalam konteks lokal. [NAM-KED-RA]
Gambar 4. Foto bersama peserta kuliah tamu setelah sesi diskusi dan penyerahan sertifikat secara simbolis.












