PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DI KOTA BENGKULU

Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang menginfeksi manusia melalui vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Murray et al., 2013). Hingga saat ini, penyakit DBD masih merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan dunia. Selain dapat menyebabkan kematian, DBD baik secara langsung maupun tidak dapat menyebabkan beban ekonomi yang mempengaruhi kehidupan penderita dan keluarganya (WHO, 2012).
Kejadian DBD terbanyak dijumpai pada daerah beriklim tropis dan subtropis. Sekitar 100 negara diketahui sebagai daerah endemis, Indonesia termasuk salah satunya. Pada tahun 2018, Provinsi Bengkulu menempati urutan ketiga tertinggi di Indonesia untuk angka kesakitan akibat DBD, dan merupakan Provinsi dengan Incidence Rate (IR) DBD yang tidak memenuhi target minimal yaitu < 49 per 100.000 penduduk (Kementerian Kesehatan, 2019).  Tercatat 1.439 kasus DBD dengan angka kematian sebanyak 12 kasus (IR 72,28 per 100.000 penduduk dan CFR 0,84%) di Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu (2019), Kota Bengkulu termasuk kategori daerah berisiko tinggi dan turut menyumbang angka peningkatan kasus DBD yang tertinggi di Provinsi Bengkulu dengan jumlah kasus sebanyak 427 dan angka kematian sebanyak 4 kasus (CFR 0,9%).
Angka kejadian, kesakitan, dan kematian akibat DBD di masyarakat cenderung menetap bahkan meningkat setiap tahunnya, meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan. Pemutusan rantai penularan DBD melalui pengendalian vektor masih sukar dilakukan karena sulitnya mengeliminasi habitat perkembangbiakan vektor. Salah satu upaya yang paling mudah dan terbukti paling efektif untuk memberantas penyakit DBD ialah dengan mempengaruhi perilaku masyarakat agar melakukan praktik yang mendukung pencegahan penularan dan pemberantasan penyakit DBD melalui penyampaian informasi untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat yang komprehensif tentang DBD (Arslan et al., 2016; Lima et al., 2011; Kamgang et al., 2011). Di antaranya ialah informasi mengenai etiologi penyakit, pola penularan, vektor, tanda dan gejala penyakit, penatalaksanaan dan pengobatan, komplikasi, prognosis penyakit, serta cara pengendalian dan pencegahan penyakit DBD.
Berdasarkan pertimbangan terhadap situasi tersebut, pada bulan Juli - Oktober 2022, satu tim dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan cara memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam upaya mendukung pencegahan DBD. Tim tersebut terdiri atas dr. Lala Foresta Valentine Gunasari, M. Biomed. sebagai ketua serta dr. Annelin Kurniati, SpPD, Muhammad Rifqi Taufiqurrahman, dan Tsaniyah Pasandra sebagai anggota. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di 10 kelurahan Kota Bengkulu, yaitu Kelurahan Kandang Limun, Rawa Makmur, Rawa Makmur Permai, Bentiring, Bentiring Permai, Pematang Gubernur, Beringin Raya, Pagar Dewa, Sidomulyo, dan Kampung Bali. Total jumlah responden yang terlibat sebanyak 250 orang (25 orang untuk setiap kelurahan) yang dipilih dengan cluster random sampling. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan secara door to door ke masing-masing responden. Sebelum penyuluhan diberikan, dilakukan pemeriksaan keberadaan jentik/larva nyamuk di dalam tempat penampungan air pada masing-masing rumah responden. Hal ini bertujuan untuk menentukan House Index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI), dan Angka Bebas Jentik (ABJ) pada setiap kelurahan. Dengan tujuan yang sama, pemeriksaan tersebut diulangi kembali 1 minggu setelah penyuluhan dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan untuk membandingkan HI, CI, BI, dan ABJ sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. 
Pada pengamatan ditemukan bahwa terjadi penurunan HI, CI, BI serta peningkatan ABJ setelah diberikan edukasi kepada responden. Berdasarkan skala Larva index untuk HI, CI, BI setelah diberikan penyuluhan, diketahui bahwa nilai Density figure untuk semua kelurahan berkisar antara 1-5 yang menunjukkan risiko penularan sedang untuk DBD di lokasi tersebut. Angka bebas jentik di seluruh kelurahan setelah diberikan edukasi meningkat hingga > 95% yang berarti telah mencapai target yang seharusnya untuk meminimalisir risiko penularan DBD. Hasil tersebut memberikan kesimpulan bahwa upaya penyuluhan kepada masyarakat terbukti efektif untuk menurunkan risiko penularan DBD di masyarakat.
Upaya untuk mencegah penularan dan penyebaran penyakit DBD di kota Bengkulu masih sangat diperlukan. Salah satu metode yang terbukti cukup efektif ialah dengan memberikan edukasi berdasarkan bukti kepada masyarakat secara meluas, seperti yang telah dilakukan pada kegiatan pengabdian ini. Upaya edukasi ke masyarakat ini perlu diperluas cakupannya dan diteruskan secara kontinu untuk mencapai tujuan penurunan angka kesakitan dan kematian akibat DBD khususnya di Kota Bengkulu.
 

Video Profil

E-Campus

Wisuda Online E-Paper Mail Unib E-Paper E-Learning E-Jurnal Portal Akademik Digilib

Pengunjung

Pranala Luar

Kemendikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Free Medical Journal

Promoting free access to medical journal

Hindawi Pubishing Cooperation

Open Access journals across many areas of science, technology, and medicine

Ikatan Dokter Indonesia

Indonesian Medical Association - organisasi Profesi bagi dokter di seluruh wilayah Indonesia

MDPI – Open Access Publishing

MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute)